Minggu, 27 Juni 2021

SAMA-SAMA MAKHLUK

Bismillahirrohmaanirrohiim

Manusia selain sebagai hamba Allah, juga sebagai khalifatullah fil ard. Artinya, manusia diamanahi oleh Allah sebagai “wakil-Nya” di muka bumi. Kemudian, agar manusia mampu mengemban amanah tersebut, Allah menitipkan limpahan potensi yang luar biasa, yang mana potensi tersebut tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk yang lain. Namun kadang manusia lupa dan menganggap bahwa dirinya superior atau lebih, jika dibanding dengan makhluk yang lain.

Contoh sangat sederhana yang mungkin pernah kita alami, yaitu pada saat kita melihat semut saat sedang menyapu misalkan, kita sering merasa bahwa dia adalah “pengganggu”, atau pada saat hendak tidur banyak nyamuk, mukin sebagian dari kita “marah dan menyalahkan” nyamuk. Sepintas memang benar seperti itu, tapi jika kita pahami secara lebih dalam mukin kita akan menemukan sesuatu yang berbeda. Coba sekali-kali jika ada waktu luang, perhatikanlah baik-baik binatang kecil itu. Sekali lagi penulis sampaikan, insyaallah kita akan menemukan sesuatu yang berbeda, dan juga akan menarik kesimpulan yang berbeda.

“Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq” Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-Alaq: 1)

Jika kita sudah mampu melihat dari sisi lain, bukan dari sudut pandang yang biasa kita gunakan, maka muaranya kita akan sampai pada pernyataan bahwa “kita sama-sama makhluk” dengan segala esensi dan eksistensinya.

Wallohu a’lam

Sabtu, 26 Juni 2021

TERUS BERKARYA

 


Bismillahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillah atas nikmat kehidupan dan umur yang masih Allah titipkan kepada kita. Nafas yang masih berhembus, jantung yang masih berdetak, dan waktu yang terus berjalan. Ia setiap saat menunjukkan dan mengingatkan pada kita yang di dunia, meskipun tanpa berucap kata.

Tulisan di bawah ini, saya temukan pada sebuah buku kecil, yang semoga sedikit banyak bisa mengingatkan bahwa kita ini masih “hidup”, dan marilah kita pelajari salah satu sifat “hidup”.

“…. Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda TAK AKAN PERNAH BISA BERHENTI. Meski anda berdiam diri di situ. Bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka bergeraklah, berkaryalah, sekecil apapun itu. Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini ….”

Diriku dan kalian wahai saudaraku. Seberapa sering kita memanfaatkan potensi luar biasa yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai makhluk sekaligus sebagai hamba-Nya. Atau justru lebih sering kita sia-sia kan, dan biarkan begitu saja tanpa ada kebermanfaatan. Jangan menunggu hebat, teruslah “bergerak”.

Wallohu a’lam.

Minggu, 29 September 2019

MELANGKAH


Bismillahirrohmaniirrohiim,

Beranjaklah melangkah, jika kau punya tujuan. Sekecil apapun itu, teruslah melangkah. Kadang kaki terasa ringan, tapi tak jarang pula terasa berat. Itulah dinamika kehidupan yang tak bisa kita lawan. Bersahabatlah dengan kenyataan, dengan terus berusaha dan berdoa. Ingatlah selalu kita tidak sendirian, ada Allah Yang Maha Penyayang.

Wallohu a’lam

Minggu, 09 Juni 2019

AKU DAN AKU


aku dan aku ibarat dua kaki yang berjalan beriringan
Laksana dua sayap yang mengepak
Bak kedua telapak tangan yang saling bertepuk
Berbeda tapi sama
Sama tetapi berbeda
Saat aku yang satu panas, aku yang lain dingin
Ketika aku yang satu bicara, aku yang lain diam
aku dan aku punya kelebihan masing-masing
punya kekurangan masing-masing
dan punya peran masing-masing
Tak ada yang boleh meremehkan apalagi merendahkan
Karena aku adalah aku
dan aku adalah aku
aku ada karena aku ada
aku tercipta karena aku tercipta
aku dan aku adalah makhluk
yang Allah ciptakan
dengan rasa kasih dan sayang.

Minggu, 26 Mei 2019

MENDIDIK


Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Mendidik adalah sesuatu yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Apapun profesinya, apapun keahliannya, mendidik menjadi suatu kebutuhan dasar manusia. Minimal adalah mendidik dirinya sendiri. Dengan harapan, semakin berjalannya waktu, semakin bertambah pula kualitas seseorang. Sebagai manusia biasa, tak ada yang terlahir sempurna. Allah dalam kitab suci-Nya telah menginformasikan bahwa manusia selain membawa potensi kebaikan, juga mempunyai sisi kekurangan. Selama manusia masih bernafas, selama itu pula kewajiban untuk memperbaiki diri terus Ia pikulkan. Bukan karena Allah kejam, justru karena Allah begitu sayang kepada hamba-Nya. Allah ingin melihat seberapa gigih dan tekunnya kita sebagai manusia dalam berusaha, berjuang dan berdoa demi memperbaiki diri dan memperindah akhlak. Allah Maha Melihat Maha Penyayang.
            
Karena kehidupan manusia tidak bisa lepas dari proses mendidik, ada hal penting yang ingin penulis sampaikan bahwa mendidik ibarat sedang “membentuk” atau “mengubah” atau “memproses” dari yang tadinya kurang baik atau kurang bermanfaat, menjadi baik, bermanfaat, indah dan sebagainya. Renungkanlah sejenak bahwa hampir semua yang namanya “membentuk, mengubah, atau memproses” itu membutuhkan waktu, tempaan, dan rasa yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, proses dari tanah liat menjadi keramik, dari sebulir pasir menjadi mutiara, dan dari ulat menjadi kupu-kupu. Memang tak mudah untuk menerima kenyataan itu semua, apalagi kita hidup di zaman modern dimana budaya serba instan dan faham hedonisme sudah merambah dan mulai mengancam kehidupan manusia.
            
Berbahagia sekali apabila kita mampu mengemas proses mendidik dengan sesuatu yang menyenangkan. Ibarat obat, obat itu dilapisi dengan sesuatu yang rasanya enak. Atau obat yang telah dicampur dengan sesuatu sehingga rasanya tidak lagi menjadi pahit tetapi menjadi manis atau rasa buah dan sebagainya. Walaupun rasanya sudah berubah, namun didalamnya tetap masih ada obat yang sebenarnya berasa pahit. Andaikan tidak mampu membuat obat yang rasanya enak, jangan sampai “obatnya dibuang, diganti dengan sesuatu yang rasanya enak”. Karena jika dimakan bukan kesembuhan yang didapat. Bukankah tujuan meminum obat adalah sebagai lantaran untuk memperoleh kesembuhan! Rasa bagi sebagian orang (khususnya anak-anak) memang penting, tetapi bukan itu tujuannya.
            
Sebagai pendidik (minimal pendidik untuk dirinya), teruslah belajar dan ingatlah bahwa “menjadi baik dan bermanfaat” itu butuh perjuangan yang tak singkat dan tak mudah. Maka berusahalah untuk membalut rasa yang tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang terasa menyenangkan, misalkan selalu memunculkan rasa syukur, mencari strategi, metode ataupun trik dalam mendidik agar terasa lebih menyenangkan, atau mencari sisi-sisi yang menyenangkan. Apabila saat ini kita belum mampu menemukan itu semua, jangan berhenti. Terus lakukanlah walaupun masih terasa pahit. Karena “manis atau pahit nya perjuangan” itu sebenarnya bukanlah tujuan. Tujuannya adalah “kesembuhan, kebaikan, keindahan”, yang pada akhirnya mendatangkan keridoan Allah, Tuhan semesta alam.

Wallohu a’lam.

Jumat, 24 Mei 2019

TANGAN YANG TERUS TERBUKA


Bismillahirrohmaanirrohiim. 

Manusia hidup, tak bisa melepaskan diri dari kebaikan-kebaikan orang lain. Melalui tangan-tangan maanusialah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang mencurahkan nikmat-Nya. Setiap hari, bahkkan setiap detik detak jantung berada dalam kasih sayang-Nya. Dalam kehidupan manusia, ada sosok yang sangat berharga yang mestinya singgah kokoh dalam relung hati yang terdalam. Melalui sikapnya, lisannya dan tangannya Allah telah mengalirkan secercah cahaya kepada kita. Dia adalah guru-guru kita.

Serendah apapun diri kita, pasti kita memiliki guru. Guru yang telah mengajarkan kebaikan dan kemuliaan. Guru yang terus peduli dengan anak didiknya atau santrinya dengan caranya masing-masing. Mereka ingin kita menjadi orang yang selamat. Mereka ingin melihat kita hidup bahagia, tak hanya di dunia namun di akhirat. Namun, lihatlah diri kita, Sudahkah kita melaksanakan nasihat-nasihatnya! Atau bahkan kita telah “mengabaikan petuahnya”!

Ingatlah, tak ada tangan guru yang tertutup untuk menerima kepulangan si murid yang telah bersalah. “Tangannya” begitu lembut untuk menerima muridnya kembali dalam kebenaran. “Tatapan” matanya pun selalu teduh untuk menyambut kepulangan kita sebagai murid, yang telah  lama meninggalkan nasihatnya. Jangan ragu untuk mendekatinya, meski “tangan “ ini kotor. Beliau akan menggenggam “tangan” kita, menuntun dan mendoakan dalam heningnya. Terimakasih guruku.

Wallohu a’lam.

Rabu, 27 Maret 2019

PENDIDIKAN KELUARGA

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Meskipun orang tua bukan guru secara formal, tetapi perannya sebagai pendidik sangatlah besar, bahkan melebihi peran guru di sekolah. Setiap hari antara orang tua dan anak selalu terjalin komunikasi. Apa-apa yang diucapkan dan diperbuat oleh orang tua akan menjadi model bagi anak-anaknya. Apabila orang tuanya terbiasa berbuat dan bertutur kata baik, maka anak akan menirunya. Begitu juga sebaliknya, kalau perbuatan dan tutur kata orang tua buruk, maka anak mereka juga akan mengikutinya.

Anak yang sering melihat orang tuanya sering pergi ke masjid, rajin mengikuti majelis-majelis ta’lim, tekun membaca buku, dan ulet dalam bekerja, maka anak-anaknya akan cenderung mengikutinya. Begitu pula ketika seorang anak dibiasakan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an bersama-sama, puasa sunah bersama-sama, maka anak tersebut pasti akan berbeda dengan anak yang tidak diberikan contoh dan dibiasakan seperti itu. Meskipun dalam kenyataannya tidak semua anak itu sama dengan orang tuanya, tetapi yang perlu dipahami dan diyakini bahwa, anak yang dididik dengan baik pasti berpeluang jauh lebih besar untuk menjadi anak yang baik dari pada dengan yang tidak dididik. Dalam masyarakat Jawa khusunya ada ungkapan, “Jika manusia menanam padi, maka tidak semuanya padi yang tumbuh, tetapi rumputpun ikut tumbuh. Namun kalau manusia menanam rumut, jangan harap padi akan tumbuh”.

Wallohu a'lam.

Sabtu, 09 Maret 2019

BERJALAN DI ATAS LANGIT


Bismillahirrohmaanirrohiim,

“BANYAK ORANG YANG PANDAI BERJALAN DI ATAS LANGIT. NAMUN JARANG YANG MAMPU BERJALAN DI ATAS MUKA BUMI” (Jalaludin Rumi)

Sepintas, akal sehat kita akan menolak pernyataan di atas. Akan tetapi jika kita ulangi dua, tiga kali, atau bahkan lebih. Maka bisa memunculkan makna yang berbeda dari pemahaman kita sebelumnya. Ada pesan moral yang cukup dalam dari makna konotatif yang terkandung di dalamnya.
Antara angan dan kerja keras, antara impian dan semangat juang. Dominan manakah diri kita? Apakah kita hanya pandai berjalan di atas langit?

Wallohu a’lam.

Jumat, 02 November 2018

SOAL RASA

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Manusia dikaruniai hati, sebagai tempat bersemayamnya keimanan, juga tempat berlabuhnya perasaan. Salah satunya adalah soal rasa. “Bahagia melihat orang lain bahagia”, kalimat pendek yang mudah untuk diucapkan, tetapi butuh pemahaman dan latihan untuk bisa melaksanakannya. Setiap hal baik membutuhkan proses dan komitmen yang besar agar bisa benar-benar mendarah daging “mbalung sungsum”. Kalau dalam bahasa agamanya, agar bisa menjadi sebuah akhlakul karimah. Seseorang dikatakan telah memiliki akhlakul karimah atau akhlak yang baik, ketika kebaikan-kebaikan bisa ia laksanakan secara spontan, tanpa melakukan pertimbangan-pertimbangan dan proses berfikir yang panjang dan rumit. Tetapi bukan berarti tidak pernah berfikir ketika akan berbuat baik, karena dalam konteks tertentu perlu juga berfikir panjang dengan mempertimbangkan segala konsekwensi positif negatifnya.

Setiap orang secara naluri ingin menjadi yang terbaik, ingin menjadi pemenang, ingin hidup selamat, ingin hidup bahagia dan seabreg harapan-harapan baik lainnya. Kompetisi adalah hal yang baik, bahkan dalam agamapun diajarkan untuk berkompetisi dalam kebaikan atau “fastabiqul khairaat”. Dengan adanya kompetisi, membuat seseorang menjadi semangat untuk belajar, berlatih dan berjuang untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan yang dicita-citakannya. Namun ada satu hal “PRINSIP” yang terkadang manusia terlena dan lupa, sehingga memunculkan sifat yang tidak baik dalam dirinya, yaitu perasaan “Senang melihat orang lain kalah dan sedih melihat orang lain menang”.

Secara kasat mata, dalam perlombaan atau kompetisi pasti ada yang menang dan ada pula yang kalah. Tetapi tidak berarti, “Kita senang di atas kesedihan orang lain atau bersedih di atas kesenangan orang lain”. Ini adalah soal rasa, soal hati, dan perasaaan yang harus benar-benar dijaga dan diluruskan. Hati harus dididik, dan diarahkan dengan baik. Ingatlah, nafsu yang singgah dalam diri manusia, yang apabila ia mendominasi hati nurani, maka yang terjadi adalah memunculkan manusia-manusia yang seakan berjalan tanpa melihat kanan kiri, yang penting dirinya senang.

Belajarlah terus untuk menjadi yang terbaik, tapi jangan lupa belajar pula untuk terus menghargai dan menyayangi orang lain. Karena mereka sama-sama manusia, sama seperti kita. Semoga Allah selalu membimbing dan melunakkan hati kita dalam kebaikan-kebaikan.

Wallohu a’lam.

Sabtu, 20 Oktober 2018

RUTINITAS

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari esok masih tertutup rapat. Rahasia kehidupan yang dengannya manusia sering bertanya-tanya tentang tulisan-tulisan itu. Manusia adalah manusia, yang Allah ciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam artian luas menyangkut segala sesuatu yang muaranya adalah meraih keridoan dari Sang Pencipta. Allah sengaja merahasiakan masa depan agar manusia terus berusaha, terus berdoa. Pada titik menjelang dibukanya tabir, agar manusia bisa tawakal kepada-Nya. Dan saat tabir itu telah terbuka, agar manusia bersikap ridha menerima bagian yang telah Allah berikan.

Inilah siklus dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti “telapak tangan tak mungkin berbalik”. Disinilah Allah menguji siapa dari hamba-hamba-Nya yang pantas meraih kemuliaan. Butuh keyakinan, butuh latihan yang terus menerus kita lakukan. Butuh pula motivasi dari banyak belajar, banyak mengaji, banyak mengkaji, banyak bertanya dan banyak membaca.

Dunia memang bukan surga, dunia juga bukan neraka. Tapi kita bisa “bersahabat” dengannya. Jika kita terus mendekat pada Sang Penciptanya.

Wallohu a’lam.

Selasa, 16 Oktober 2018

BAIK ATAU BIJAK

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Jujur itu baik, menasihati itu baik, menolong juga baik. Namun ada kalanya ada kejujuran yang membuat orang tersakiti, ada nasihat yang membuat hati tersayat, ada pula pertolongan yang menjadikan orang merasa hina. Bukan jujurnya yang salah, bukan nasihatnya yang salah, bukan pula menolongnya yang salah, tetapi cara kita melakukannya yang belum tepat. Ada seni dalam berbuat baik yang kadang kala terlupakan. Disinilah letak kedewasaan seseorang terlihat dan teruji.

Semua orang tahu bahwa sifat-sifat diatas itu baik, tapi tidak semua orang tahu bagaimana caranya agar kebaikan itu “tidak mendatangkan keburukan”. Bukankah Islam datang untuk menyelamatkan dan memanusiakan manusia dengan misinya rahmatal lil ‘alamin! Tapi mengapa kadang kala kita terlalu egois, hanya memandang yang ada di depan mata dan selalu meng-iyakan apa yang ada dalam rasa. Teruslah menggali, teruslah mengkaji. Tidak hanya dari teks, tapi dari konteks kehidupan real manusia.

Wallohu a’lam.

Jumat, 12 Oktober 2018

IBARAT RINTIK HUJAN

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Manusia adalah makhluk yang telah menerima tanggung jawab sebagai “khalifatullah fil ard” atau wakil Allah di muka bumi. Tugas dan tanggung jawab ini tidaklah mudah. Buktinya telah diabadikan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah telah menawarkannya pada langit, bumi dan gunung. Mereka semua menolaknya. Namun ketika ditawarkan kepada manusia, ia menerimanya dan merasa sanggup untuk mengemban beban berat itu.

Allah Maha Rahman, Maha Rahim. Tidak akan membiarkan umat manusia berjalan tanpa arah. Dia selalu mendidiknya, tapi sering kali manusia tidak menyadari betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Allah mendidik umat manusia ibarat RINTIK AIR HUJAN yang tak pernah henti.
Jangan salahkan air yang tak mampu mengisi.
Tapi salahkan diri yang tak mau membuka hati.

Wallohu a’lam.

Minggu, 07 Oktober 2018

ILMU ADALAH ....

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Dalam kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari ilmu. Setiap saat selama nafas masih berhembus, manusia tetap berkewajiban untuk terus menuntut ilmu, dengan beragam cara dan kepada siapapun. Kewajiban menuntut ilmu seolah Allah ingin menyampaiakan bahwa “tidak ada manusia yang pintar”, yang ada adalah manusia yang dititipi sedikit ilmu atas ikhtiyar dan kehendak-Nya. Jika bicara tentang ilmu, sering kali diidentikan dengan pengetahuan. Apakah sama diantara keduanya. Apabila sama, alasannya apa? Dan apabila berbeda, letak perbedaannya dimana?

Merujuk pada apa yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud ra bahwa “ILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH”. Seandainya ada orang yang punya banyak pengetahuan, sementara dengan pengetahuannya tidak menjadikannya tambah dekat sama Allah, tidak menjadikannya tambah takut sama Allah, itu artinya dia belum mendapatkan ilmu. Yang ia dapatkan baru sebatas pengetahuan saja. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang pengetahuannya sedikit, tapi dengan pengetahuannya tersebut, menjadikannya tambah taat pada Allah, tambah cintanya sama Allah, dan tambah takutnya terhadap ancaman dan siksa-Nya, itu artinya orang tersebut telah mendapatkan ilmu.

Ingatlah “ILMU ADALAH CAHAYA”. Ilmu itu sifatnya suci, dan akan bersemayam pada wadah yang suci pula. Allah menganugerahi manusia dengan “hati”, sebagai tempat tertampungnya ilmu. Oleh karena itu, perbanyaklah istighfar, perbanyaklah muhasabah dan munajat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah membersihkan hati kita, sehingga tidak hanya pengetahuan yang kita dapatkan, tetapi ilmu yang kelak bisa menyelamatkan.

Wallohu a’lam

Rabu, 04 Juli 2018

TABIR PEMISAH

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Antara manusia satu dengan manusia lainnya adakah tabir yang menghalangi mereka? Pertanyaan ini sepertinya terlihat aneh dan terkesan mengada-ada. Coba kita cermati baik-baik, pada saat kita berhadapan langsung dengan lawan bicara kita dan saling bercakap-cakap atau bercerita, apakah kita bisa mengetahui apa yang ada di pikiran rekan bicara kita secara utuh? Sebagai manusia biasa, kita tidak akan mampu mengetahuinya. Dalam jarak yang sangat dekat saja, manusia tidak bisa, apalagi terhadap orang yang terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Terkadang manusia terlalu berani menganggap orang lain lebih rendah, serta terlalu berani pula menganggap dirinya lebih baik dan lebih suci. Ingatlah, ada tabir yang memisahkan kita dengan orang lain. Banyak amal shalih orang lain yang tidak kita ketahui, begitu juga banyak pula dosa dan kemaksiatan yang telah kita dilakukan, namun orang lain tidak mengetahuinya. Betapa penyayangnya Allah yang telah membuat tabir itu. Andaikan semua yang ada di hati, semua yang ada di pikiran dan semua yang dilakukan oleh kita, diketahui seluruhnya oleh orang lain, betapa malunya diri kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk terus memperindah hati, menata pikiran dan memperbaiki budi pekerti. Teruslah berbuat baik, karena Allah Maha Melihat, Allah Maha Baik.

Wallohu a’lam

Jumat, 22 Juni 2018

PE DE


Bismillahirrohmaanirrohiim.

Memiliki rasa percaya diri dalam melakoni setiap episode kehidupan adalah dambaan setiap orang. Rasa ini menjadi salah satu motor penggerak bagi seseorang untuk melakukan aktifitasnya dengan ulet dan gigih. Tak hanya itu, percaya diri juga menjadi sebuah mental positif untuk terus teguh dan kukuh dalam mempertahankan prinsip dan pendiriannya. Dengan kuatnya rasa ini pula, seseorang bisa menjalin komunikasi dan hubungan sosial yang hangat.

Namun ada beberapa hal yang harus dipahami agar seseorang tidak salah dalam mengartikan istilah “percaya diri”. Sebagian orang menganggap percaya diri adalah merasa bangga terhadap kelebihan yang dimiliki. Ada pula yang mengatakan, percaya diri adalah menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Menurut pembaca, benarkah dua pengertian di atas! Bukankah percaya diri adalah sifat yang mulia! Bukankah sesuatu yang mulia tidak mungkin membuat atau menganggap orang lain hina!

Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada dasarnya Allah memandang semua manusia itu sama, yang membedakan adalah ketakwaannya. Kalau kita berangkat dari pemahaman agama, percaya diri itu bukanlah bangga terhadap kelebihan diri, bukan pula menganggap orang lain lebih rendah. Percaya diri adalah menganggap bahwa semua manusia itu “sama”. Sama-sama ciptaan Allah, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, sama-sama punya potensi untuk berhasil.

Untuk persoalan ketakwaan seseorang, biarlah Allah yang menilainya. Kita memang bisa melihat baik buruk seseorang, namun yang perlu diingat bahwa sehebat-hebatnya manusia, tak akan mampu menilai seseorang secara keseluruhan. Jangankan aspek rohani, aspek aktifitas jasmani saja hanya sebagian kecil yang mampu manusia lihat. Oleh karena itu, janganlah penilaian kita terhadap orang lain, membuat jiwa dan raga kita enggan untuk bergerak.

Teruslah melangkah, meski kondisi di bawah.
Teruslah berbuat, meski tangan dan kakimu berat.
Ingatlah kita manusia, kita sama-sama diciptakan oleh Allah Yang Maha Sempurna.
Wallohu a’lam.

Selasa, 19 Juni 2018

SIAP SUSAH


Bismillahirrohmaanirrohiim.

Setiap manusia menginginkan hidup selamat dan bahagia. Hidup yang senantiasa diliputi suasana tenang, damai dan serba menyenangkan. Terpenuhinya segala kebutuhan, baik dari segi materi maupun immateri. Banyak cara ditempuh demi tercapainya sebuah kebahagiaan. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kasih dan sayang-Nya yang begitu luas, ibarat cakrawala yang tak berujung dan tak bertepi, terkadang membuat manusia lupa bahwa “Sebulir pasir bisa menjadi mutiara”.

Jika kebahagiaan yang ditemui, bersyukurlah dan bersabarlah.
Jika kesusahahan yang menghampiri, bersabarlah dan bersyukurlah.
Yakinlah tak ada yang sia-sia, terlebih bagi jiwa yang rela menerima dan terus berusaha.
Wallohu a’lam.

Senin, 18 Juni 2018

ANTARA TANGIS DAN TAWA


Bismillahirrohmaanirrohiim

Dalam hidup, dua hal ini tak bisa lepas dari kehidupan manusia, sudah menjadi sunnatullah dan ketetapan Allah yang tak bisa dipungkiri keberadaannya. Keduanya merupakan bagian dari sisi kemanusiaan yang Allah karuniakan kepada umat manusia. Tangis ibarat air hujan yang mampu membasahi dan menumbuhkan bumi, sedangkan tawa bagaikan bunga dan dedaunan yang tumbuh beraneka warna dan penuh keindahan. Manusia ketika menangis, kadang lupa saat dia tertawa. Begitu pula saat tertawa, sering kali lalai ketika ia menangis. Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu momen kebahagiaan bagi umat Islam. Namun apakah kebahagiaan tanpa batas yang dikehendaki Islam?

Bukankah kita pernah mendengar keterangan bahwa, langit, bumi bahkan para malaikat pada saat Bulan Ramadhan akan berakhir, mereka menangis. Mereka bersedih karena tahu bahwa bulan yang penuh keberkahan, bulan yang penuh kemuliaan, penuh dengan rahmat, penuh dengan maghfirah, akan meninggalkan manusia. Masjid-masjid tak seramai lagi pada saat bulan Ramadhan. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai lirih terdengar oleh telinga. Kebiasaan berbagi mulai mengikis.

Sadarkah kita dengan semua ini! Sudahkah kita beribadah, berjuang, belajar dan berdoa dengan maksimal di Bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita tahun ini! Yakinkah kita, telah menjadi golongan orang-orang yang muttaqin, setelah kita melakukan ibadah puasa sebulan penuh! Yakinkah kita, telah mendapatkan ampunan atau maghfirah dari Allah setelah kita banyak melakukan amal shaleh!

Mari kita belajar. Belajar menjadi manusia yang mampu melihat dari sisi yang berbeda, sehingga kita mampu tertawa dan menangis dengan elegan dan bijak. Mampu memiliki keyakinan yang menghujam, namun tak mengurangi kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah yang sangat membutuhkan pertolongan dan kasih sayang dari-Nya. Sehingga keyakinan kita tak mengurangi sikap bergantung dan pengharapan kita terhadap Sang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam

“Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir batin. Semoga kita kembali pada kesucian, diberikan sikap istiqomah dalam berbuat baik, dan masih diberi kesempatan untuk bertemu Bulan Suci Ramadhan yang akan datang. Aamiin”

Jumat, 16 Februari 2018

MERENUNGLAH SEJENAK




Bismillahirrohmaanirrohiim,

Merenung merupakan sesuatu yang sederhana, tetapi bukan berarti tidak ada guna. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan, jika perenungan yang kita lakukan muaranya untuk mencapai rido Ilahi. Merenung bisa melatih hati, membeningkan nurani, serta memperbaiki budi.

Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak untuk melihat lebih dalam sosok “kakek-kakek atau nenek-nenek yang gemar ke mushola atau ke masjid, untuk melaksanakan shalat jamaah ataupun untuk mengaji.” Coba tanyakan dalam diri kita, “Apakah kelak kalau kita sudah tua bisa seperti beliau-beliau yang semakin sepuh semakin mendekat sama Allah?”

Kita tahu bahwa mungkin pendidikan kita lebih tinggi, makanan kita lebih bergizi, kehidupan kita juga lebih mudah karena teknologi. Namun lagi-lagi ada pertanyaan besar yang seharusnya selalu mengganjal dalam benak dan sanubari kita, “Mampukah kita lebih baik dari mereka di hadapan Dzat Yang Maha Pencipta? Bukankah kenikmatan yang kita terima jauh lebih banyak dan lebih besar dari mereka!” Jangan-jangan kita masih kalah jauh.

Sebagai contoh, hanya sekedar memegang, membuka kemudian membaca Al-Qur’an seayat dua ayat saja, kita mungkin masih jarang melakukannya. Padahal saat kecil dulu, kita rajin dan sangat bersahabat dengan kitab suci. Sekarang tanpa sadar, kita sering meninggalkannya. Bukan karena tidak bisa membaca, tetapi karena kita merasa sangat sibuk dan tidak ada waktu lagi untuk melakukannya.

Apakah kita tidak malu jika melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih mau belajar, masih mau mengaji, dan masih mau mengeja seperti layaknya anak kecil. Mereka tidak malu apalagi enggan. Seolah-olah bagi mereka, membaca Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat nikmat dan sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Hal itu terlihat jelas dari semangatnya yang tinggi, sinar matanya yang teduh, serta senyumnya yang hangat.

Sekali lagi, “Tidak malukah kita dengan beliau-beliau itu! Kemudian bisakah kita seperti beliau-beliau, sementara sikap dan perilaku kita saat ini masih sering tidak sejalan dengan kehendak-Nya!”

Wallohu a’lam.

Senin, 08 Januari 2018

JURUS AMPUH MENJADI ORANG BAIK




Bismillahirrohmaanirrohiim,

Apabila mendengar kata “jurus”, yang muncul dalam benak kita kurang lebih adalah tentang sesuatu yang hebat, luar biasa dan bisa menjadikan seseorang  “sakti mandraguna”. Dengan jurus yang hebat pula, seseorang bisa mengalahkan musuh-musuhnya dan bisa menjadi sosok yang dikenal oleh banyak orang. Lalu yang ingin penulis tanyakan, untuk mendapatkan itu semua apakah seseorang hanya cukup berleha-leha saja tanpa mau berusaha, belajar dan berlatih? Adakah perjuangan, pengorbanan dan rasa sakit yang harus ia terima agar mampu menguasainya?

Tulisan ini akan sedikit memberi gambaran umum tentang satu hal yang seharusnya setiap manusia itu mampu menguasainya, sehingga ia menjadi orang yang baik, khususnya dalam berhablum minannas (berhubungan dengan sesama manusia). Satu hal penting itu penulis istilahkan dengan “jurus ampuh”, agar pembaca lebih mudah dalam mengingat dan memahaminya.

Jurus ini sangat sederhana sekali, prinsipnya adalah “Jika dipukul sakit, maka jangan memukul”. Coba resapi dan renungkan prinsip tersebut. Semakin dalam kita memahaminya, maka akan semakin mudah dalam mengaplikasikannya.  Prinsip ini menurut orang jawa, diistilahkan dengan “tepak ngawak”. Yaitu berusaha memposisikan diri orang lain, seperti diri kita sendiri.

Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang sama. Setiap manusia ingin selamat, ingin bahagia, ingin diterima dan diakui keberadaannya, ingin disayang, ingin diperlakukan baik dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, setiap manusia tidak ingin celaka, tidak ingin sengsara, tidak ingin diabaikan, tidak ingin disakiti, dan tidak ingin diperlakukan kasar. Apabila kita sudah memahami itu semua, maka akan muncul dalam fikiran bahwa “semua orang pada dasarnya adalah sama”. Karena orang maka ingin diorangkan, karena manusia maka ingin dimanusiakan, tentunya sesuai dengan batasan-batasan yang diridoi oleh-Nya.

Setelah muncul pemahaman tersebut, selanjutnya diri kita akan terdorong untuk menekan sisi ego yang ada dalam diri. Sisi ego atau “keakuan” yang selama ini tumbuh subur tanpa kendali membuat banyak orang disekitar kita terabaikan karenanya. Terlalu besarnya ego telah membutakan mata hati untuk bisa melihat ke dalam, dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Sehingga banyak hal penting luput dari pandangan dan kepedulian kita. Kita cenderung terlalu asik dan sibuk dengan urusan-urusan pribadi tanpa mau mengorbankan sebagian hidup kita untuk orang lain. Sungguh betapa egoisnya kita.

Kemudian setelah kita mampu mengendalikan ego, yang perlu dimunculkan selanjutnya adalah kemampuan untuk bisa memilah dan memilih serta menentukan apa yang harus dilakukan terhadap orang lain, baik dari segi hati / prasangka, ucapan dan juga tindakan. Sehingga apa yang ada di hati, fikiran, lisan dan perbuatan kita sesuai dengan tugas manusia sebagai “khalifatullah fil ard” yaitu wakil Allah di muka bumi.

“Jika orang lain sebagai kata, maka jadikan diri kita untuk mengeja”
Sehingga antara tulisan dan ucapan akan selaras dan sejalan.

Wallohu a’lam

KEWIBAWAAN


Bismillahirrohmaanirrohiim,

Kewibawaan datang dari jiwa yang bersih, bukan dari hati yang seperti buih
Kewibawaan bukanlah keangkuhan, melainkan keteduhan
Kewibawaan bukan dari omongan, melainkan dari keteladanan
Kewibawaan bukanlah keinginan, melainkan cerminan
Kewibawaan bukan rasa takut, melainkan rasa yg tertaut
Kewibawaan bukanlah pujian, melainkan keikhlasan
Kewibawaan bukan mengkerdilkan, melainkan mengorangkan

Wallohu a’lam