Sabtu, 09 Maret 2019

BERJALAN DI ATAS LANGIT


Bismillahirrohmaanirrohiim,

“BANYAK ORANG YANG PANDAI BERJALAN DI ATAS LANGIT. NAMUN JARANG YANG MAMPU BERJALAN DI ATAS MUKA BUMI” (Jalaludin Rumi)

Sepintas, akal sehat kita akan menolak pernyataan di atas. Akan tetapi jika kita ulangi dua, tiga kali, atau bahkan lebih. Maka bisa memunculkan makna yang berbeda dari pemahaman kita sebelumnya. Ada pesan moral yang cukup dalam dari makna konotatif yang terkandung di dalamnya.
Antara angan dan kerja keras, antara impian dan semangat juang. Dominan manakah diri kita? Apakah kita hanya pandai berjalan di atas langit?

Wallohu a’lam.

Jumat, 02 November 2018

SOAL RASA

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Manusia dikaruniai hati, sebagai tempat bersemayamnya keimanan, juga tempat berlabuhnya perasaan. Salah satunya adalah soal rasa. “Bahagia melihat orang lain bahagia”, kalimat pendek yang mudah untuk diucapkan, tetapi butuh pemahaman dan latihan untuk bisa melaksanakannya. Setiap hal baik membutuhkan proses dan komitmen yang besar agar bisa benar-benar mendarah daging “mbalung sungsum”. Kalau dalam bahasa agamanya, agar bisa menjadi sebuah akhlakul karimah. Seseorang dikatakan telah memiliki akhlakul karimah atau akhlak yang baik, ketika kebaikan-kebaikan bisa ia laksanakan secara spontan, tanpa melakukan pertimbangan-pertimbangan dan proses berfikir yang panjang dan rumit. Tetapi bukan berarti tidak pernah berfikir ketika akan berbuat baik, karena dalam konteks tertentu perlu juga berfikir panjang dengan mempertimbangkan segala konsekwensi positif negatifnya.

Setiap orang secara naluri ingin menjadi yang terbaik, ingin menjadi pemenang, ingin hidup selamat, ingin hidup bahagia dan seabreg harapan-harapan baik lainnya. Kompetisi adalah hal yang baik, bahkan dalam agamapun diajarkan untuk berkompetisi dalam kebaikan atau “fastabiqul khairaat”. Dengan adanya kompetisi, membuat seseorang menjadi semangat untuk belajar, berlatih dan berjuang untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan yang dicita-citakannya. Namun ada satu hal “PRINSIP” yang terkadang manusia terlena dan lupa, sehingga memunculkan sifat yang tidak baik dalam dirinya, yaitu perasaan “Senang melihat orang lain kalah dan sedih melihat orang lain menang”.

Secara kasat mata, dalam perlombaan atau kompetisi pasti ada yang menang dan ada pula yang kalah. Tetapi tidak berarti, “Kita senang di atas kesedihan orang lain atau bersedih di atas kesenangan orang lain”. Ini adalah soal rasa, soal hati, dan perasaaan yang harus benar-benar dijaga dan diluruskan. Hati harus dididik, dan diarahkan dengan baik. Ingatlah, nafsu yang singgah dalam diri manusia, yang apabila ia mendominasi hati nurani, maka yang terjadi adalah memunculkan manusia-manusia yang seakan berjalan tanpa melihat kanan kiri, yang penting dirinya senang.

Belajarlah terus untuk menjadi yang terbaik, tapi jangan lupa belajar pula untuk terus menghargai dan menyayangi orang lain. Karena mereka sama-sama manusia, sama seperti kita. Semoga Allah selalu membimbing dan melunakkan hati kita dalam kebaikan-kebaikan.

Wallohu a’lam.

Sabtu, 20 Oktober 2018

RUTINITAS

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari esok masih tertutup rapat. Rahasia kehidupan yang dengannya manusia sering bertanya-tanya tentang tulisan-tulisan itu. Manusia adalah manusia, yang Allah ciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam artian luas menyangkut segala sesuatu yang muaranya adalah meraih keridoan dari Sang Pencipta. Allah sengaja merahasiakan masa depan agar manusia terus berusaha, terus berdoa. Pada titik menjelang dibukanya tabir, agar manusia bisa tawakal kepada-Nya. Dan saat tabir itu telah terbuka, agar manusia bersikap ridha menerima bagian yang telah Allah berikan.

Inilah siklus dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti “telapak tangan tak mungkin berbalik”. Disinilah Allah menguji siapa dari hamba-hamba-Nya yang pantas meraih kemuliaan. Butuh keyakinan, butuh latihan yang terus menerus kita lakukan. Butuh pula motivasi dari banyak belajar, banyak mengaji, banyak mengkaji, banyak bertanya dan banyak membaca.

Dunia memang bukan surga, dunia juga bukan neraka. Tapi kita bisa “bersahabat” dengannya. Jika kita terus mendekat pada Sang Penciptanya.

Wallohu a’lam.

Selasa, 16 Oktober 2018

BAIK ATAU BIJAK

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Jujur itu baik, menasihati itu baik, menolong juga baik. Namun ada kalanya ada kejujuran yang membuat orang tersakiti, ada nasihat yang membuat hati tersayat, ada pula pertolongan yang menjadikan orang merasa hina. Bukan jujurnya yang salah, bukan nasihatnya yang salah, bukan pula menolongnya yang salah, tetapi cara kita melakukannya yang belum tepat. Ada seni dalam berbuat baik yang kadang kala terlupakan. Disinilah letak kedewasaan seseorang terlihat dan teruji.

Semua orang tahu bahwa sifat-sifat diatas itu baik, tapi tidak semua orang tahu bagaimana caranya agar kebaikan itu “tidak mendatangkan keburukan”. Bukankah Islam datang untuk menyelamatkan dan memanusiakan manusia dengan misinya rahmatal lil ‘alamin! Tapi mengapa kadang kala kita terlalu egois, hanya memandang yang ada di depan mata dan selalu meng-iyakan apa yang ada dalam rasa. Teruslah menggali, teruslah mengkaji. Tidak hanya dari teks, tapi dari konteks kehidupan real manusia.

Wallohu a’lam.

Jumat, 12 Oktober 2018

IBARAT RINTIK HUJAN

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Manusia adalah makhluk yang telah menerima tanggung jawab sebagai “khalifatullah fil ard” atau wakil Allah di muka bumi. Tugas dan tanggung jawab ini tidaklah mudah. Buktinya telah diabadikan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah telah menawarkannya pada langit, bumi dan gunung. Mereka semua menolaknya. Namun ketika ditawarkan kepada manusia, ia menerimanya dan merasa sanggup untuk mengemban beban berat itu.

Allah Maha Rahman, Maha Rahim. Tidak akan membiarkan umat manusia berjalan tanpa arah. Dia selalu mendidiknya, tapi sering kali manusia tidak menyadari betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Allah mendidik umat manusia ibarat RINTIK AIR HUJAN yang tak pernah henti.
Jangan salahkan air yang tak mampu mengisi.
Tapi salahkan diri yang tak mau membuka hati.

Wallohu a’lam.

Minggu, 07 Oktober 2018

ILMU ADALAH ....

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Dalam kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari ilmu. Setiap saat selama nafas masih berhembus, manusia tetap berkewajiban untuk terus menuntut ilmu, dengan beragam cara dan kepada siapapun. Kewajiban menuntut ilmu seolah Allah ingin menyampaiakan bahwa “tidak ada manusia yang pintar”, yang ada adalah manusia yang dititipi sedikit ilmu atas ikhtiyar dan kehendak-Nya. Jika bicara tentang ilmu, sering kali diidentikan dengan pengetahuan. Apakah sama diantara keduanya. Apabila sama, alasannya apa? Dan apabila berbeda, letak perbedaannya dimana?

Merujuk pada apa yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud ra bahwa “ILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH”. Seandainya ada orang yang punya banyak pengetahuan, sementara dengan pengetahuannya tidak menjadikannya tambah dekat sama Allah, tidak menjadikannya tambah takut sama Allah, itu artinya dia belum mendapatkan ilmu. Yang ia dapatkan baru sebatas pengetahuan saja. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang pengetahuannya sedikit, tapi dengan pengetahuannya tersebut, menjadikannya tambah taat pada Allah, tambah cintanya sama Allah, dan tambah takutnya terhadap ancaman dan siksa-Nya, itu artinya orang tersebut telah mendapatkan ilmu.

Ingatlah “ILMU ADALAH CAHAYA”. Ilmu itu sifatnya suci, dan akan bersemayam pada wadah yang suci pula. Allah menganugerahi manusia dengan “hati”, sebagai tempat tertampungnya ilmu. Oleh karena itu, perbanyaklah istighfar, perbanyaklah muhasabah dan munajat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah membersihkan hati kita, sehingga tidak hanya pengetahuan yang kita dapatkan, tetapi ilmu yang kelak bisa menyelamatkan.

Wallohu a’lam

Rabu, 04 Juli 2018

TABIR PEMISAH

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Antara manusia satu dengan manusia lainnya adakah tabir yang menghalangi mereka? Pertanyaan ini sepertinya terlihat aneh dan terkesan mengada-ada. Coba kita cermati baik-baik, pada saat kita berhadapan langsung dengan lawan bicara kita dan saling bercakap-cakap atau bercerita, apakah kita bisa mengetahui apa yang ada di pikiran rekan bicara kita secara utuh? Sebagai manusia biasa, kita tidak akan mampu mengetahuinya. Dalam jarak yang sangat dekat saja, manusia tidak bisa, apalagi terhadap orang yang terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Terkadang manusia terlalu berani menganggap orang lain lebih rendah, serta terlalu berani pula menganggap dirinya lebih baik dan lebih suci. Ingatlah, ada tabir yang memisahkan kita dengan orang lain. Banyak amal shalih orang lain yang tidak kita ketahui, begitu juga banyak pula dosa dan kemaksiatan yang telah kita dilakukan, namun orang lain tidak mengetahuinya. Betapa penyayangnya Allah yang telah membuat tabir itu. Andaikan semua yang ada di hati, semua yang ada di pikiran dan semua yang dilakukan oleh kita, diketahui seluruhnya oleh orang lain, betapa malunya diri kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk terus memperindah hati, menata pikiran dan memperbaiki budi pekerti. Teruslah berbuat baik, karena Allah Maha Melihat, Allah Maha Baik.

Wallohu a’lam