Rabu, 04 Juli 2018

TABIR PEMISAH

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Antara manusia satu dengan manusia lainnya adakah tabir yang menghalangi mereka? Pertanyaan ini sepertinya terlihat aneh dan terkesan mengada-ada. Coba kita cermati baik-baik, pada saat kita berhadapan langsung dengan lawan bicara kita dan saling bercakap-cakap atau bercerita, apakah kita bisa mengetahui apa yang ada di pikiran rekan bicara kita secara utuh? Sebagai manusia biasa, kita tidak akan mampu mengetahuinya. Dalam jarak yang sangat dekat saja, manusia tidak bisa, apalagi terhadap orang yang terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Terkadang manusia terlalu berani menganggap orang lain lebih rendah, serta terlalu berani pula menganggap dirinya lebih baik dan lebih suci. Ingatlah, ada tabir yang memisahkan kita dengan orang lain. Banyak amal shalih orang lain yang tidak kita ketahui, begitu juga banyak pula dosa dan kemaksiatan yang telah kita dilakukan, namun orang lain tidak mengetahuinya. Betapa penyayangnya Allah yang telah membuat tabir itu. Andaikan semua yang ada di hati, semua yang ada di pikiran dan semua yang dilakukan oleh kita, diketahui seluruhnya oleh orang lain, betapa malunya diri kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk terus memperindah hati, menata pikiran dan memperbaiki budi pekerti. Teruslah berbuat baik, karena Allah Maha Melihat, Allah Maha Baik.

Wallohu a’lam

Jumat, 22 Juni 2018

PE DE


Bismillahirrohmaanirrohiim.

Memiliki rasa percaya diri dalam melakoni setiap episode kehidupan adalah dambaan setiap orang. Rasa ini menjadi salah satu motor penggerak bagi seseorang untuk melakukan aktifitasnya dengan ulet dan gigih. Tak hanya itu, percaya diri juga menjadi sebuah mental positif untuk terus teguh dan kukuh dalam mempertahankan prinsip dan pendiriannya. Dengan kuatnya rasa ini pula, seseorang bisa menjalin komunikasi dan hubungan sosial yang hangat.

Namun ada beberapa hal yang harus dipahami agar seseorang tidak salah dalam mengartikan istilah “percaya diri”. Sebagian orang menganggap percaya diri adalah merasa bangga terhadap kelebihan yang dimiliki. Ada pula yang mengatakan, percaya diri adalah menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Menurut pembaca, benarkah dua pengertian di atas! Bukankah percaya diri adalah sifat yang mulia! Bukankah sesuatu yang mulia tidak mungkin membuat atau menganggap orang lain hina!

Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada dasarnya Allah memandang semua manusia itu sama, yang membedakan adalah ketakwaannya. Kalau kita berangkat dari pemahaman agama, percaya diri itu bukanlah bangga terhadap kelebihan diri, bukan pula menganggap orang lain lebih rendah. Percaya diri adalah menganggap bahwa semua manusia itu “sama”. Sama-sama ciptaan Allah, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, sama-sama punya potensi untuk berhasil.

Untuk persoalan ketakwaan seseorang, biarlah Allah yang menilainya. Kita memang bisa melihat baik buruk seseorang, namun yang perlu diingat bahwa sehebat-hebatnya manusia, tak akan mampu menilai seseorang secara keseluruhan. Jangankan aspek rohani, aspek aktifitas jasmani saja hanya sebagian kecil yang mampu manusia lihat. Oleh karena itu, janganlah penilaian kita terhadap orang lain, membuat jiwa dan raga kita enggan untuk bergerak.

Teruslah melangkah, meski kondisi di bawah.
Teruslah berbuat, meski tangan dan kakimu berat.
Ingatlah kita manusia, kita sama-sama diciptakan oleh Allah Yang Maha Sempurna.
Wallohu a’lam.

Selasa, 19 Juni 2018

SIAP SUSAH


Bismillahirrohmaanirrohiim.

Setiap manusia menginginkan hidup selamat dan bahagia. Hidup yang senantiasa diliputi suasana tenang, damai dan serba menyenangkan. Terpenuhinya segala kebutuhan, baik dari segi materi maupun immateri. Banyak cara ditempuh demi tercapainya sebuah kebahagiaan. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kasih dan sayang-Nya yang begitu luas, ibarat cakrawala yang tak berujung dan tak bertepi, terkadang membuat manusia lupa bahwa “Sebulir pasir bisa menjadi mutiara”.

Jika kebahagiaan yang ditemui, bersyukurlah dan bersabarlah.
Jika kesusahahan yang menghampiri, bersabarlah dan bersyukurlah.
Yakinlah tak ada yang sia-sia, terlebih bagi jiwa yang rela menerima dan terus berusaha.
Wallohu a’lam.

Senin, 18 Juni 2018

ANTARA TANGIS DAN TAWA


Bismillahirrohmaanirrohiim

Dalam hidup, dua hal ini tak bisa lepas dari kehidupan manusia, sudah menjadi sunnatullah dan ketetapan Allah yang tak bisa dipungkiri keberadaannya. Keduanya merupakan bagian dari sisi kemanusiaan yang Allah karuniakan kepada umat manusia. Tangis ibarat air hujan yang mampu membasahi dan menumbuhkan bumi, sedangkan tawa bagaikan bunga dan dedaunan yang tumbuh beraneka warna dan penuh keindahan. Manusia ketika menangis, kadang lupa saat dia tertawa. Begitu pula saat tertawa, sering kali lalai ketika ia menangis. Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu momen kebahagiaan bagi umat Islam. Namun apakah kebahagiaan tanpa batas yang dikehendaki Islam?

Bukankah kita pernah mendengar keterangan bahwa, langit, bumi bahkan para malaikat pada saat Bulan Ramadhan akan berakhir, mereka menangis. Mereka bersedih karena tahu bahwa bulan yang penuh keberkahan, bulan yang penuh kemuliaan, penuh dengan rahmat, penuh dengan maghfirah, akan meninggalkan manusia. Masjid-masjid tak seramai lagi pada saat bulan Ramadhan. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai lirih terdengar oleh telinga. Kebiasaan berbagi mulai mengikis.

Sadarkah kita dengan semua ini! Sudahkah kita beribadah, berjuang, belajar dan berdoa dengan maksimal di Bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita tahun ini! Yakinkah kita, telah menjadi golongan orang-orang yang muttaqin, setelah kita melakukan ibadah puasa sebulan penuh! Yakinkah kita, telah mendapatkan ampunan atau maghfirah dari Allah setelah kita banyak melakukan amal shaleh!

Mari kita belajar. Belajar menjadi manusia yang mampu melihat dari sisi yang berbeda, sehingga kita mampu tertawa dan menangis dengan elegan dan bijak. Mampu memiliki keyakinan yang menghujam, namun tak mengurangi kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah yang sangat membutuhkan pertolongan dan kasih sayang dari-Nya. Sehingga keyakinan kita tak mengurangi sikap bergantung dan pengharapan kita terhadap Sang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam

“Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir batin. Semoga kita kembali pada kesucian, diberikan sikap istiqomah dalam berbuat baik, dan masih diberi kesempatan untuk bertemu Bulan Suci Ramadhan yang akan datang. Aamiin”

Jumat, 16 Februari 2018

MERENUNGLAH SEJENAK




Bismillahirrohmaanirrohiim,

Merenung merupakan sesuatu yang sederhana, tetapi bukan berarti tidak ada guna. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan, jika perenungan yang kita lakukan muaranya untuk mencapai rido Ilahi. Merenung bisa melatih hati, membeningkan nurani, serta memperbaiki budi.

Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak untuk melihat lebih dalam sosok “kakek-kakek atau nenek-nenek yang gemar ke mushola atau ke masjid, untuk melaksanakan shalat jamaah ataupun untuk mengaji.” Coba tanyakan dalam diri kita, “Apakah kelak kalau kita sudah tua bisa seperti beliau-beliau yang semakin sepuh semakin mendekat sama Allah?”

Kita tahu bahwa mungkin pendidikan kita lebih tinggi, makanan kita lebih bergizi, kehidupan kita juga lebih mudah karena teknologi. Namun lagi-lagi ada pertanyaan besar yang seharusnya selalu mengganjal dalam benak dan sanubari kita, “Mampukah kita lebih baik dari mereka di hadapan Dzat Yang Maha Pencipta? Bukankah kenikmatan yang kita terima jauh lebih banyak dan lebih besar dari mereka!” Jangan-jangan kita masih kalah jauh.

Sebagai contoh, hanya sekedar memegang, membuka kemudian membaca Al-Qur’an seayat dua ayat saja, kita mungkin masih jarang melakukannya. Padahal saat kecil dulu, kita rajin dan sangat bersahabat dengan kitab suci. Sekarang tanpa sadar, kita sering meninggalkannya. Bukan karena tidak bisa membaca, tetapi karena kita merasa sangat sibuk dan tidak ada waktu lagi untuk melakukannya.

Apakah kita tidak malu jika melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih mau belajar, masih mau mengaji, dan masih mau mengeja seperti layaknya anak kecil. Mereka tidak malu apalagi enggan. Seolah-olah bagi mereka, membaca Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat nikmat dan sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Hal itu terlihat jelas dari semangatnya yang tinggi, sinar matanya yang teduh, serta senyumnya yang hangat.

Sekali lagi, “Tidak malukah kita dengan beliau-beliau itu! Kemudian bisakah kita seperti beliau-beliau, sementara sikap dan perilaku kita saat ini masih sering tidak sejalan dengan kehendak-Nya!”

Wallohu a’lam.

Senin, 08 Januari 2018

JURUS AMPUH MENJADI ORANG BAIK




Bismillahirrohmaanirrohiim,

Apabila mendengar kata “jurus”, yang muncul dalam benak kita kurang lebih adalah tentang sesuatu yang hebat, luar biasa dan bisa menjadikan seseorang  “sakti mandraguna”. Dengan jurus yang hebat pula, seseorang bisa mengalahkan musuh-musuhnya dan bisa menjadi sosok yang dikenal oleh banyak orang. Lalu yang ingin penulis tanyakan, untuk mendapatkan itu semua apakah seseorang hanya cukup berleha-leha saja tanpa mau berusaha, belajar dan berlatih? Adakah perjuangan, pengorbanan dan rasa sakit yang harus ia terima agar mampu menguasainya?

Tulisan ini akan sedikit memberi gambaran umum tentang satu hal yang seharusnya setiap manusia itu mampu menguasainya, sehingga ia menjadi orang yang baik, khususnya dalam berhablum minannas (berhubungan dengan sesama manusia). Satu hal penting itu penulis istilahkan dengan “jurus ampuh”, agar pembaca lebih mudah dalam mengingat dan memahaminya.

Jurus ini sangat sederhana sekali, prinsipnya adalah “Jika dipukul sakit, maka jangan memukul”. Coba resapi dan renungkan prinsip tersebut. Semakin dalam kita memahaminya, maka akan semakin mudah dalam mengaplikasikannya.  Prinsip ini menurut orang jawa, diistilahkan dengan “tepak ngawak”. Yaitu berusaha memposisikan diri orang lain, seperti diri kita sendiri.

Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang sama. Setiap manusia ingin selamat, ingin bahagia, ingin diterima dan diakui keberadaannya, ingin disayang, ingin diperlakukan baik dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, setiap manusia tidak ingin celaka, tidak ingin sengsara, tidak ingin diabaikan, tidak ingin disakiti, dan tidak ingin diperlakukan kasar. Apabila kita sudah memahami itu semua, maka akan muncul dalam fikiran bahwa “semua orang pada dasarnya adalah sama”. Karena orang maka ingin diorangkan, karena manusia maka ingin dimanusiakan, tentunya sesuai dengan batasan-batasan yang diridoi oleh-Nya.

Setelah muncul pemahaman tersebut, selanjutnya diri kita akan terdorong untuk menekan sisi ego yang ada dalam diri. Sisi ego atau “keakuan” yang selama ini tumbuh subur tanpa kendali membuat banyak orang disekitar kita terabaikan karenanya. Terlalu besarnya ego telah membutakan mata hati untuk bisa melihat ke dalam, dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Sehingga banyak hal penting luput dari pandangan dan kepedulian kita. Kita cenderung terlalu asik dan sibuk dengan urusan-urusan pribadi tanpa mau mengorbankan sebagian hidup kita untuk orang lain. Sungguh betapa egoisnya kita.

Kemudian setelah kita mampu mengendalikan ego, yang perlu dimunculkan selanjutnya adalah kemampuan untuk bisa memilah dan memilih serta menentukan apa yang harus dilakukan terhadap orang lain, baik dari segi hati / prasangka, ucapan dan juga tindakan. Sehingga apa yang ada di hati, fikiran, lisan dan perbuatan kita sesuai dengan tugas manusia sebagai “khalifatullah fil ard” yaitu wakil Allah di muka bumi.

“Jika orang lain sebagai kata, maka jadikan diri kita untuk mengeja”
Sehingga antara tulisan dan ucapan akan selaras dan sejalan.

Wallohu a’lam

KEWIBAWAAN


Bismillahirrohmaanirrohiim,

Kewibawaan datang dari jiwa yang bersih, bukan dari hati yang seperti buih
Kewibawaan bukanlah keangkuhan, melainkan keteduhan
Kewibawaan bukan dari omongan, melainkan dari keteladanan
Kewibawaan bukanlah keinginan, melainkan cerminan
Kewibawaan bukan rasa takut, melainkan rasa yg tertaut
Kewibawaan bukanlah pujian, melainkan keikhlasan
Kewibawaan bukan mengkerdilkan, melainkan mengorangkan

Wallohu a’lam